Ida Resi Agung Pinatih – Menapak Jalan Kesucian

Ida Resi Agung Pinatih – Menapak Jalan Kesucian
1. Murdha Wakya
Ida Resi Agung Pinatih bertempat tinggal di desa Penatih di pinggiran kota Denpasar. Sebuah desa yang kini mulai ramai karena perkembangan kota, sebuah desa yang berada tidak jauh dari Universitas Hindu Indonesia. Di Pesramannya yang sepi namun dipenuhi oleh sejumlah patung, juga tapel barong, dan barongnya sendiri, menyebabkan Pesraman tersebut terlihat mengandung misteri spiritual.
Pada tanggal 23 Pebruari 2001, yang juga bertepatan dengan hari ulang tahun Parisada Hindu Dharma Indonesia, kami mengadakan perbincangan yang cukup panjang dengan beliau. Beliau begitu menaruh perhatian dan menjawab pertanyaan kami dengan berbagai argumentasi dan perumpamaan yang sangat menarik. Diskusipun berlangsung sekitar 4 jam, yaitu sampai pukul 23.00 Wita. Inilah Pandita yang sangat langka karena beliau tidak saja sibuk melayani umat, tetapi juga tetap mampu melaksanakan walatanda (memahat dan mematung), sekaligus mulus (mewarnai). Suatu pekerjaan yang ternyata dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sangat ketat, terlebih lagi semua karya seni ini adalah karya spiritual untuk kegiatan keagamaan. Inilah seorang Pandita yang juga menulis karya sastra, menyalin karya-karya terpilih menyangkut kepanditaan. Inilah seorang Pandita yang juga menaruh minat besar pada permata (Soca) yang kemudian diberikan kepada para pinandita lain (pemangku), yang juga dipakai untuk ngelukat (menyucikan) umat yang memerlukan.
Bertemu dengan beliau seketika kita ingat dengan Ida Pedanda Made Sidemen, seorang pandita yang sekaligus sebagai pengarang besar abad ke-20. Ternyata Ida Pedanda Made Sidemen adalah Guru Waktra beliau, tempat beliau belajar ajaran kepanditaan sekaligus melatih guna dusun (menyangkut pembuatan patung, tapel dan yang lain). Memang sebuah foto besar Ida Pedanda Made Sidemen terpasang di dinding di hadapan beliau. Banyak cerita tentang pandita yang mencapai usia 126 tahun itu dalam percakapan kami malam itu. Cerita tentang dunia kepanditaan yang penuh pencarian nilai-nilai rohani, yang penuh ungkapan-ungkapan rohani, sekaligus penuh humor rohani.
Kepergian Ida Resi Agung Pinatih untuk selama-lamanya pada tanggl 23 Nopember 2003 memang cukup mengejutkan mereka yang mengenal beliau. Beliau memang telah mencapai usia panjang 97 tahun, namun beliau tetap terlihat sehat dan tak henti-hentinya melayani umat. Kini setelah beliau tiada banyak yang ingin mengetahui tidak saja kisah beliau, tapi juga filsafat hidup beliau, seorang pandita yang tampil dengan penuh kesederhanaan, yang hanya berbicara bila perlu, yang senantiasa aktif dalam kegiatan keumatan termasuk paruman sulinggih yang dilakukan Parisada, dan yang telah menjadi anggota paruman sulinggih Parisada sejak awal berdirinya lembaga ini pada tahun 1959. Ida Resi Agung Pinatih memang patut dikenal oleh seluruh umat Hindu, karena beliau adalah salah seorang pandita yang menjalani kepanditaan sangat lama yaitu selama 60 tahun.
2. Pemuda yang mendengar Suara Hati: Daun Ilalang
Dilahirkan pada tahun 1906, didiksa pada usia 37 tahun, maka beliau adalah salah seorang pandita tertua di Bali, bukan dalam usia saja, tetapi dalam kepanditaan. Memang sangat mengesankan pada usia yang semuda itu beliau telah memilih jalan kesucian, menjadi seorang pandita. Dapat kita bayangkan bagaimana situasi kemasyarakatan pada waktu itu di jaman penjajahan Belanda, ketika masyarakat Bali dibelenggu oleh masalah-masalah ekonomi dan sosial lainnya. Konon ketika itu perjudianpun merajalela, namun adalah seorang pemuda yang dengan ketetapan hati memilih jalan kesucian tanpa terganggu oleh lingkungan pergaulannya.
Sesungguhnya beliau tak lahir dari lingkungan kependetaan, namun bila ditarik jauh ke atas warga Pinatih adalah memang warga yang menegakkan ajaran agama dan menjalankan hidup kebrahmanaan sekaligus juga sebagai kesatria. Agaknya Ida Resi Agung Pinatih yang ketika dilahirkan bernama I Gusti Ngurah Gede benar-benar mengetahui sejarah leluhur beliau, lalu terusiklah hati nurani beliau yang terdalam untuk mewujudkan cita-cita menjadi orang suci.
Dorongan hati nurani inilah menyebabkan beliau membangun dunia persahabatan (samsarga) dengan menjadikan orang-orang suci dan rohaniawan sebagai teman. Beliaupun bergaul di lingkungan geria-geria di Sanur, Mengwi, Gianyar dan lain-lain. Di salah satu geria di Mengwi misalnya beliau mendekatkan dirinya kepada salah seorang Pedanda dan menjadi abdi di sana. Di sinilah beliau mulai memahami dunia kerohanian, termasuk dunia mistik yang berkembang di Bali. Di sinilah beliau mendapatkan petunjuk bahwa dunia rohani atau kesucian adalah untuk mereka yang tidak cacat atau sempurna diri, namun dunia black magic akan sulit dikuasai oleh orang yang tidak cacat, namun begitu mudah dipahami oleh orang yang cacat mentalnya.
Demikianlah I Gusti Ngurah Gede mengembara di antara para pandita sehingga senantiasa mendapat percikan ajaran-ajaran kesucian, lalu menyuburkan akar kesucian yang telah tumbuh dalam diri beliau. Maka pada saat yang tepat dorongan hati nurani begitu kuat, keputusanpun diambil, yaitu beliau mencari guru untuk mendiksa diri beliau. Di sini kita teringat dengan konsep ilalang di dalam kitab suci Sarasamuscaya, yang kiranya beliau telah pelajari:
“Karenanya perilaku seseorang hendaklah digunakan sebaik-baiknya masa muda, selagi badan sedang kuatnya, hendaklah dipergunakan untuk usaha menuntut dharma, artha dan jnana, sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan anak muda, seperti ilalang yang telah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya tidak tajam lagi” (SS:28).
Kitab suci ini juga menegaskan masa muda dinantikan oleh masa kanak-kanak, masa muda, masa tualah yang dinantikannya, dan bila masa tua telah tercapai itu berarti telah berada di pangkuan maut, apakah yang masih dinantinya. Oleh karena itu hendaklah dipercepat mengusahakan perbuatan yang berdasarkan dharma (Kagawayaning Dharma Prawerthi).
I Gusti Ngurah Gede benar-benar memahami hakekat waktu (kala) sebagaimana diajarkan dalam kitab-kitab suci. Maka beliau tidak ingin terlambat di dalam mencari dharma, di dalam berbuat dharma.
3. Memasuki Perguruan Rohani: Wiku Sasana
Dalam usia semuda itulah I Gusti Ngurah Gede mencari seorang nabe (guru rohani), dan dipilihlah Ida Pedanda Rai dari geria Kutri Gianyar sebagai nabe, dan Ida Pedanda Made Sidemen dari geria Intaran Sanur sebagai guru Waktra. Maka mengalirlah biji-biji rohani yang diberikan oleh kedua guru beliau tersebut kedalam diri beliau selanjutnya mekar dan berkembang.
Ketika berbicara tentang Ida Pedanda Made Sidemen, seorang arsitek tradisional Bali yang terkemuka, sekaligus seorang sastrawan Bali terbesar abad ke-20, beliau terlihat begitu bergairah. Foto besar Ida Pedanda Made Sidemen terpasang di dinding di hadapan beliau. Banyak cerita tentang pandita yang mencapai usia 126 tahun itu. Cerita tentang dunia kepanditaan yang penuh pencaharian nilai-nilai rohani, penuh ungkapan-ungkapan rohani, sekaligus penuh humor rohani.
Dalam salah satu karya Ida Pedanda Made Sidemen berjudul Salampah Laku disuratkan bagaimana perjalanan hidup beliau sebagai seorang “miskin” yang menyatakan diri beliau tetap “mayasa lacur”. Beliau menulis,
“idep beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karange awake tandurin, guna dusun ne kanggo ring desa-desa”
Begitulah beliau memilih apa yang beliau sebut sebagai “mayasa lacur” dan “guna dusun”. Karena tidak memiliki sawah, maka beliau akan menanam sesuatu di dalam diri beliau sendiri.
Artinya Ida Pedanda Made Sidemen mengingatkan kita betapa pentingya kita mengenal diri dan menjadikan diri kita sendiri sebagai sumber kehidupan. Ini sesungguhnya ajaran rohani yang sangat tinggi sebagaimana dituangkan dengan berbagai ungkapan di dalam kitab-kitab tattwa seperti sari sarira, padma hredaya, dan lain sebagainya.
Untuk bisa mencapai tingkat pengetahuan tattwa jnana yang semakin tinggi guru-guru rohani beliau pasti memberikan dasar-dasar sesana terlebih dahulu, atau dasar-dasar etika sebagai rohaniawan. Dalam kitab-kitab Siwa Sesana, Brati Sesana, Resi Sesana pertama-tama kita diajarkan tentang Dasa Dila yang menjadi ajaran etika seorang pandita. Dan dasa sila yang merupakan gabungan dari Panca Yama Brata dan Panca Nyama Brata juga menjadi landasan ajaran yoga. Di sinilah kita memahami seorang pandita menurut kitab-kitab tersebut sesungguhnya juga seorang yogi, atau seorang sadhaka (dia yang melaksanakan sadhana yoga).
Yang menarik adalah dalam rangka seminar sadhaka yang dilaksanakan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat pada tahun 2001 Ida Resi Agung Pinatih menyajikan sebuah makalah berjudul Wiku Sasana. Di sinilah beliau menyuratkan 12 macam wiku sebagaimana dikutip dari lontar Purbhasomi yaitu:
1. Wiku Wajer
2. Wiku Cendana
3. Wiku Pangkon
4. Wiku Ambeng
5. Wiku Palang Pasir
6. Wiku Sabha Ukir
7. Wiku Sanghara
8. Wiku Grohita
9. Wiku Brahmacari
10. Wiku Grehasti
11. Wiku Wanaprasti
12. Wiku Sanyasi.
Patut diketahui bahwa wikut tersebut dari angka 1 sampai 8 dipandang wiku yang cacat, sedangkan wiku angka 9 samapi 12 disebut Wiku Catur Asrama yang tidak cacat, teguh melakukan dharma kawikon.
Demikianlah Ida Resi Agung Pinatih telah menulis sesuatu yang sangat berarti bagi membangun landasan kesusilaan bagi seorang rohaniawan.
4. Menebar Benih Kesucian: Soca dan Sauca
Ida Resi Agung Pinatih dikenal di kalangan para pandita sebagai seseorang yang sangat menggemari permata (soca). Ini sungguh mengesankan karena memang secara fisik ketika memuja seorang pandita dihiasi dengan penuh permata. Namun kita tidak boleh salah sangka beliaupun mengetahui hakikat permata itu yang disebut dengan mani, sesungguhnya bukanlah permata dalam arti fisik tersebut. Apa yang sesungguhnya berada dalam pikiran yang didapat oleh seorang pandita dalam proses yoga dengan menyucikan diri terus menerus.
Itulah sebabnya salah satu bagian dari dasa sila disebut Sauca, artinya suci lahir bathin. Oleh karena itu tugas seorang pandita adalah menegakkan kesucian, kesucian diri, lebih lanjut kesucian lingkungan dan masyarakat luas.
Di dalam kitab Arjuna Wiwaha, sebuah kitab yang memuat pujaan ksatria Arjuna kepada Sang Hyang Siwa disuratkan sebagai berikut:
“Sasiwimba hanenggata mesi banyu
ndanasing suci nirmala mesi wulan
iwa mangkana rakwa kiteng kadadin
ring ambek i yoga kiteng sakala”
artinya:
bayangan bulan dalam tempayan yang berisi air
pada setiap tempayan yang berisi air yang suci dan bening berisi bayangan bulan
demikianlah Hyang Siwa pada kehidupan ini
pada dia yang melaksanakan yoga Hyang Siwa menampakkan diri
jelaslah di sini bahwa kesucian pikiran (suci nirmala) adalah mutlak bagi seorang pandita. Dan kepada dia yang melaksanakan yoga dengan tepat Hyang Siwa akan menganugerahkan cinta mani (permata pikiran) yang dapat memenuhi segala keinginan (sakaharepnya teka, sekahyunya dadi, cinta mani sira).
Maka soca bagi seorang sulinggih hanya sebuah simbol kesucian. Walaupun demikian diyakini pula bagi masyarakat luas soca-soca tertentu (lihat lontar Carcan Soca) mengandung khasiat tertentu. Bagi Ida Resi Agung Pinatih, Nawa Ratna atau sembilan jenis soca yang memancarkan cahaya sembilan warna menunjuk arah pangider-ider, memang sering beliau pakai sarana ngelukat pada hari-hari tertentu khususnya pada hari Punama dan Tilem.
Ida Resi Agung Pinatih sudah tentu memahami betul apa yang diajarkan guru waktra beliau Ida Pedanda Made Sidemen. Beliau pernah menyatakan:
“Sang abudhi ateguh, angamongi sesana yukti, wruh angurang indriya, manglaga sad ripu, kroda lobha gong karesnan, ya tri mal, anehan lara panastis”.
Teguh dalam budhi serta menjalankan sasana, dapat mengurangi indriya, memerangi sad ripu (enam musuh) di antaranya kroda (kemarahan) lobha (keserakahan) tresna (keterikatan) yang juga disebut Tri Mala (tiga kekotoran), tahan pada penderitaan. Pada bagian lain dinyatakan,
“Nora pirak lawan mas manik, ulahjuga utama”.
Bukan emas, perak atau permata, tetapi perbuatanlah yang utama. Suatu ajaran yang kiranya sangat dipegang teguh oleh beliau dan murid-murid beliau.
Maka setelah beliau menjadi seorang resi, Ida Resi Agung Pinatih tak henti-hentinya menebar benih-benih kesucian pada masyarakat. Dengan melakukan Loka Pala Sraya, tetapi juga dengan memberikan wejangan-wejangan suci, dan menjadikan diri beliau sendiri sebagai contoh. Ida Resi Agung Pinatih dengan ketetapan hati menebar benih kesucian dalam perjalanan panjang hidup beliau.
5. Kerja Penuh Konsentrasi: Guna Dusun
Ida Pedanda Made Sidemen dalam karyanya Salampah Laku ada menyuratkan pilihan hidup beliau yang kreatif dan kritis. Kepada sang istri beliau berkata
“idep beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karange awake tandurin, guna dusun ne kanggo ring desa-desa”.
Begitulah beliau memilih apa yang beliau sebut sebagai “mayasa lacur” dan “guna dusun”. Karena tidak memiliki sawah maka beliau menanam sesuatu dalam diri sendiri.
Apa yang disebut sebagai guna dusun?
“Melajahin kosali, guna caraning wong dusun, anggen pangupa jiwa, lega anake ngolasin, ngawi kuwu kedis sangsyahe tuladang”.
Mempunyai keterampilan dan pengetahuan dalam bidang arsitektur (kosali), membuat bangunan suci, bangunan untuk umum dan sebagainya. Pada bagian lain dinyatakan pula bahwa pengetahuan dan keterampilan mengukur tanah untuk kepentingan bangunan, serta menentukan tanah yang patut didirikan bangunan yang dimaksud (ajaran Asta Bhumi), dan apa yang beliau sebut sebagai Walatanda yaitu keterampilan membuat arca/pralingga, tapel, kulkul adalah rangkaian dari guna dusun tersebut.
Ida Pedanda Made Sidemen memiliki dua konsep yaitu Ganda sesa dan Bhasma sesa. Ganda sesa berhubungan dengan kearsitekturan dan guna dusun, sementara Bhasma sesa berhubungan dengan kepengarangan.
Agaknya Ida Resi Agung Pinatih menerapkan konsep-konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari beliau. Sehingga dari tangan beliau lahir sejumlah karya kreatif seperti arca, pratima, barong, tapel, kulkul, dan sejumlah karya-karya kearsitekturan lainnya. Malah tak segan-segan beliau memenuhi keinginan generasi muda yang menginginkan ogoh-ogoh dalam rangka menyambut hari raya Nyepi. Dari tangan beliau juga telah lahir sejumlah karya sastra.
Apabila diamati secara lebih mendalam Ganda sesa dan Bhasma sesa adalah proses kreatif seorang rohaniawan yang sekaligus adalah pelaksanaan yoga. Di sini ada pemusatan pikiran (pratihara, dharana, dhyana, samadhi), pikiran mengalir ke ujung pahat dan ke ujung pengutik (pisau tulis), terpusat pada satu titik. Maka dalam aktivitas kerja tersebut sesungguhnya beliau melaksanakan yoga sebagaimana dituangkan dalam kitab-kitab tattwa. Guna dusun memang terlihat sebagai aktivitas sederhana, karena hanya dengan demikian beliau dapat melaksanakan yoga dengan informal, disamping pelaksanaan yoga di dalam aktivitas pemujaan khususnya Nyurya Sewana yang dilakukan setiap hari.
Di sinilah kita mengetahui aktivitas seorang sadhaka di Bali sesungguhnya adalah sepenuhnya aktivitas pelaksanaan yoga, yaitu menghubungkan diri secara terus menerus kepada Sang Pencipta, yang disebut juga sebagai Sangkan Paraning Dumadi, dari mana kita berasal dan hendak kemana kita pergi. Aktivitas yoga itu dilakukan secara terus menerus dalam semua aktivitas kerja. Karena diyakini penyucian diri, lalu mempertahankan kesucian diri hanya bias dilaksanakan dengan aktivitas tersebut.
Sadhaka memang berarti dia yang melakukan Sadhana Yoga. Namun Ida Pedanda Made Sidemen dan Ida Resi Agung Pinatih telah menemui bentuk-bentuk pelaksanaan yoga secara kreatif pula.
6. Sempurna Dalam Kesederhanaan: Yasa dan Dirgayusa
Dalam keseharia Ida Resi Agung Pinatih senantiasa tampil dalam kesederhanaan. Tidak banyak bicara tetapi aktif di dalam berbagai akitivitas kerja kependetaan. Agaknya beliau benar-benar melaksanakan Siwa Sasana. Ketika menulis makalah berjudul Wiku Sasana beliau ada mengutip lontar Siwa Sasana berikut:
“Wahai para wiku berpegang teguhlah kepada ajaran siwa sasana, tidak dikuasai oleh nafsu kemarahan, sombong, angkuh, tamak, lobha, iri hati terutama kedengkian, tri mala, pikiran rakus, tidak banyak bicara tidak rusit tangan, tidak takabur, tidak melakukan penipuan, dan seterusnya. Agaknya apa yang disuratkan di dalam Siwa Sasana tersebut benar-benar beliau laksanakan. Terutama sangat tampak dalam betapa kuatnya beliau mengendalikan kata-kata”.
Selanjutnya beliau mengutip lontar Sila Krama, sebuah lontar yang memuat landasan penting bagi sesana seorang wiku yaitu yama brata dan niyama brata. Yang dimaksud dengan yama brata adalah Ahimsa artinya tidak membunuh, tidak menyakiti, brahmacari yang artinya tidak mengumbar nafsu, satya atau tidak berdusta, awiyawaharika artinya tidak suka bertengkar dan tidak berdagang, asteniya artinya tidak mencuri atau tidak mengambil milik orang lain tnapa persetujuan pemiliknya. Sedangkan yang dimaksud dengan niyama brata adalah akroda artinya tidak suka marah, guru susrusa artinya bakti dan senantiasa berhubungan dekat dengan guru, sauca artinya senantiasa mohon kesucian diri kepada Bhatara, aharalegawa artinya tidak sembarang makan, apramada artinya senantiasa membiasakan diri melaksanakan ajaran kepanditaan. Kelimanya adalah niyama brata anugrah Bhatara Siwa.
Itulah beberapa landasan pokok bagi seorang wiku dalam melaksanakan kewajibannya telah disuratkan oleh beliau dalam makalahnya tersebut. Hal penting lain yang disuratkan adalah apa yang disebut sebagai Rwawelas Brataning Brahmana, atau dua belas brata bagi seorang pendeta.
Dengan landasan ajaran kesusilaan seperti itu beliau melaksanakan yasa atau pengabdian sebagai seorang pandita. Pengabdian yang dilakukan dengan penuh ketenangan dan kesabaran, dan dengan ketetapan hati. Agaknya pelaksanaan brata seperti itulah menyebabkan Ida Resi Agung Pinatih dirghayusa, panjang umur dengan mencapai usia 97 tahun dalam perjalanan hidup yang senantiasa sehat jasmani dan rohani. Usia yang panjang juga dicapai oleh guru waktra beliau. Ida Pedanda Made Sidemen, yang lebar pada usia 126 tahun.
Apa yang dapat kita pelajari dari kedua beliau tersebut? Bahwa ketenangan dan kesabaran perlu dilatih dengan ketekunan, dan ketenangan dan kesabaran itu kini menjadi begitu mahal. Ketenangan dan kesabaran bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, namun terkait dengan sejumlah brata yang lain, seperti kesetiaan, pengendalian diri, pengendalian nafsu makan, kesederhanaan dan seterusnya. Dalam hiruk pikuk kehidupan dewasa ini, dalam dunia yang sangat pragmatis, yang mendewa-dewa efisiensi dan efektifitas, yang juga dapat menghilangkan nilai-nilai tersebut di atas, memang kita perlu bercermin pada Ida Resi Agung Pinatih: beliau yang dirghayusa, dan sehat jasmani – rohani.
7. Perjalanan Ke dalam Diri: Ksetra Gandha Mayu
Uraian singkat di atas berusaha menunjukkan bagaimana pandangan Ida Resi Agung Pinatih tentang kepanditaan dan bagaimana pula aktivitas beliau sebagai pandita. Didiksa sebagai seorang pandita sesungguhnya adalah pengesahan secara formal bagi seseorang untuk melaksanakan ajaran yoga. Begitu didiksa maka seseorang telah menjadi sadhaka, orang yang melaksanakan sadhana yoga. Sesana kepanditaan sesungguhnya adalah tuangan ajaran yoga yang diawali dengan yama dan niyama, lebih lanjut adalah tingkatan pelaksanaan yoga yang lain.
Ajaran yoga terangkai di dalam ajaran tattwa, sebagaimana disuratkan didalam kitab-kitab tattwa seperti Bhuwana Kosa, Tattwa Jnana, Maha Jnana, Wrehaspati Tattwa, Jnana Sidhanta dan yang lain. Ajaran Tattwa pada intinya mengajarkan tentang hakekat diri manusia (Atma), yang dibelenggu oleh objek indriya atau panvca tan matra dan panca maha bhuta. Terbelenggunya Sang Diri oleh ketidaksadaran (acetana) menyebabkan manusia menemui papa (kesengsaraan). Oleh karena itu tattwa mengajarkan setiap orang untuk melaksanakan pembebasan diri dari belenggu tersebut, antara lain dengan melaksanakan yajna, punya, kirti.
Ajaran yoga senantiasa mengajak kita untuk mengingat asal dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi), mengajak kita untuk menyadari hakikat perjalanan hidup kita, yang pada akhirnya akan menuju kematian. Diskusi tentang kematian inilah yang menjadi sangat penting bagi para sadhaka yang menginginkan untuk mencapai kehidupan yang abadi, yang disebut sebagai parama paramartha. Oleh karena itu diskusi tentang kematian dan kehidupan yang abadi (mretyu dan amreta) akan sampai pada diskusi tentang ksetra gandhamayu. Bagi masyarakat umum ksetra gandhamayu mungkin dilihat sebagai kuburan, namun bagi seorang sadhaka, ksetra gandhamayu adalah badan kita sendiri. Proses yoga seseorang sadhaka adalah masuk ke dalam diri, menyusuri semua wilayah misteri : gua-guanya, sungai-sungai, lautannya yang ganas, gunung yang menjulang tinggi, termasuk kehadiran para Dewa di dalamnya. Sebagaimana halnya Bhima, mencari tirta amerta dalam kisah Dewa Ruci. Ksatria Pandawa ini bertemu dengan Dewa Ruci, yang berwujud Bhima suci yang kecil, untuk mendapatkan amerta Bima harus masuk ke dalam Dewa Ruci.
Di sinilah kita memahami mengapa Ida Resi Agung Pinatih sangat bergairah ketika kita berbicara tentang hal-hal yang berkaitan ksetra (BB:Setra). Malah secara terus terang beliau mengatakan beliau telah mencatat berapa kali beliau telah memuja di setra tersebut. Dalam salah satu karya sastra beliau yaitu Geguritan Dewasa, sebuah karya sastra yang beliau ciptakan senantiasa dapat mengingat hari baik bagi upacara pengabenan, bersamaan dengan itu beliau mempraktikkan upacara pengabenan, yang agaknya menjadi ciri khas beliau , disebut sebagai “ngaben penerus”, yang berbeda dengan “ngaben tumandang mantri”, dan “ngaben ngelanus” yang banyak dikenal masyarakat Bali.
Dalam hal yang berhubungan dengan setra dan masalah-masalah kematian, Ida Resi Agung Pinatih agaknya masih menyimpan rahasia.
8. Menapak Jalan Sunyi Surya dan Sunya
Melakukan Surya Sewana, memuja Sang Hyang Surya adalah sebuah kewajiban yang beliau lakukan setiap hari. Dalam kerentaan karena usia yang panjang kewajiban itu tetap dilaksanakan. Ketika matahari baru muncul di ufuk timur beliau datang ke pemerajan untuk nyurya sewana, beliau memasuki wilayah yang sunyi, dan di wilayah inilah beliau memohon kerahayuan jagat, memohon kerahayuan umat manusia. Denting suara genta beliau bagaikan membelah kabut menggetarkan atmosfir.
Surya bukan saja saksi atau sumber cahaya, tetapi adalah juga simbol keabadian. Surya memang diam, sementara bumi tempat manusia berada mengelilinginya, dan bulan mengelilingi bumi, atau bersama bumi mengelilingi surya. Energi surya menghidupkan jagat raya, oleh karena itu bagi seorang sadhaka surya pertama-tama menjadi pusat konsentrasi pikiran, selanjutnya menarik energi surya ke dalam dirinya.
Ketika surya dalam posisi tertentu berbagai aktivitas upacara dilakukan baik bhuta yadnya maupun dewa yadnya. Pada Tilem Caitra, ketika matahari, bulan dan bumi dalam posisi tegak lurus dilakukan upacara bhuta yadnya, sementara pada Purnama Kadasa dilakukan upacara Dewa Yadnya. Demikian juga berbagai upacara dilakukan pada saat Sandya. Saat-saat seperti itu sesungguhnya berhubungan dengan posisi surya.
Bagi Ida Resi Agung Pinatih posisi surya seperti itu sangat diperhatikan. Pada tengah malam, ketika kesunyian itu sempurna, adalah saat yang tidak pernah beliau tinggalkan untuk menghadap ista dewatanya, atau dewa pujaannya. Dengan ketetapan hati beliau senantiasa bertemu dengan Sang Istadewata pada saat seperti itu, tetapi juga sudah tentu untuk “menikmati” Sunya itu sendiri.
Ajaran tentang Sunya dibahas secara mendalam di dalam lontar Dharma Sunya, sebuah lontar yang menjadi bacaan bagi seorang sadhaka. Sebaris kata dalam lontar tersebut menarik untuk dicatat:
“Kewat kewala sunya nirbana lengong luput inangen-angen winarna ya”
“Semata-mata hanya sunya nirbana yang indah itulah yang dipikirkan dan dibicarakan”.
Maka Ida Resi Agung Pinatih, sunya atau kesunyian itu begitu indah, dan senantiasa beliau pikirkan. Beliau lalu memasuki alam sunya, lalu menikmati keindahannya, terlebih lagi bila kemanunggalan dengan Dewi Keindahan terjadi (adwaitam anandam).
Di dalam lontar Dharma Sunya juga disuratkan :
“Seorang yogi yang sempurna hatinya bersinar bagaikan bulan purnama. Lahir dan batin tiada kurang sedikitpun beliau mengetahui ajaran pustaka suci. Tenang tiada goncang, tiada ikatan pikiran beliau, beliau adalah benar-benar orang suci. Penglihatannya menunjukkan rasa bahagia karena beliau telah berhasil mencapai kemanunggalan dengan Yang Tak Terpikirkan”
Kiranya Ida Resi Agung Pinatih menghayati betul makna yang terkandung di dalam baik-baik Dharma Sunya tersebut.
Ida Resi Agung Pinatih memang sangat memaknai Surya dan Sunya dan ini membuktikan beliau memiliki wawasan kesejagatan, tetapi juga memahami betul makna bhuwana alit.
9. Pesan-pesan Rohani: Patitis
“Yaning pajalane ke suung, mula srebi, tuah galange padidi patut anggen suluh”
“Jalan menuju sepi memang menakutkan, namun sinar diri itulah sepatutnya dipakai penerang”
Demikian suatu kali Ida Resi Agung Pinatih menyatakan. Di sini tampak konsep sunya dan diri sendiri menemukan suatu bentuk dan menjadi suatu ungkapan yang mengesankan. Inilah sebuah contoh kristalisasi pemikiran seorang suci seperti Ida Resi Agung Pinatih.
Perhatian beliau pada situasi kekinian diungkapkan dengan susunan kata, “Kini banyak orang yang pandai di bidang Agama, namun kita mengkhawatirkan kepandaiannya tersebut dipakai untuk hal-hal yang tidak baik dan tidak benar. Orang yang pradnyan jahat adalah orang yang sangat berbahaya karena kejahatannya akan semakin besar”, demikian beliau menyatakan. Pernyataan seperti ini adalah kesimpulan beliau setelah melihat situasi kekinian, yang mungkin dilihat sebagai kemeriahan aktivitas keagamaan, namun bagi beliau hal itu sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu tujuan berupacara harus jelas. Kalimat yang dipakai,
“patitisne masih apang melahm anut teken kadharman, ede pamerih, pastika nemuang rahayu”
“tujuan itu harus baik dan benar, mengikuti kadharman, jangan pamrih, tentu akan menemui rahayu”
Yang tersirat dalam pernyataan ini adalah yadnya harus dilaksanakan dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih, dengan tujuan yang jelas berdasarkan dharma.
Ida Resi Agung Pinatih mewanti-wanti kita untuk jangan meremehkan anugrah Tuhan (eda nganistaang paican Widhi). Karena kadang-kadang manusia dibelenggu oleh pikiran gelisah atas apa yang ia terima dalam hidup yang tiada lain adalah anugrah Tuhan. Di sini kita diajar untuk senantiasa meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Maha Adil, Maha Tahu, Maha Bijaksana. Memang banyak orang nganistaang paican Widhi, hidup penuh kegelisahan dan ketidakpuasan, sementara mereka juga tidak mengetahui apa yang disebut kepuasan itu.
Pada kesempatan lain Ida Resi Agung Pinatih menceritakan masa kecil beliau,
“dini Bapa mula anak tiwas, tusing ada apa, penyaman Bapa makejang babotoh, mamiyut. Bapa simalu ane ngarepang nyaluk sesanin kawikon dini, nut pamargin kawitane nguni”.“Di sini saya memang orang miskin, tidak memiliki apa-apa, keluarga saya semua penjudi, tidak ingat dengan kewajiban. Sayalah yang pertama memasuki dunia kepanditaan, mengikuti jejak leluhur”
Pernyataan seperti ini jelasa dapat menyadarkan diri kita betapa dunia kepanditaan itu begitu berat untuk ditegakkan dalam sebuah lingkungan yang tidak kondusif. Namun Ida Resi Agung Pinatih memiliki kemauan dan kemampuan yang besar untuk berjalan di dunia kesucian dan kesunyian itu.
Beliau memang berjalan di dunia memerlukan pengendalian diri yang ketat, termasuk pengendalian kata-kata. Bagi Ida Resi Agung Pinatih kepintaran berbicara ternyata membawa resiko yang begitu tinggi:
“Bapa memang tidak pintar bicara, karena takut disebut pintar, karena betapa berat membawa kepintaran”.(Bapa mula tusing pati bisa ngerawos ulian jejeh kasengguh bisa, anak tuwah abot ngaba bisa).Pernyataan terakhir ini mirip dengan apa yang dinyatakan oleh guru waktra beliau yang menyatakan diri beliau sebagai berikut:
“Adalah orang yang hanya membuat sesaknya masyarakat, tiada berguna miskin dan malas, hanya bias berbicara, bagaikan suara burung”.
(hana wong pangresek jagat, tan paguna tiwas lekid, kewala uning mangucap, kadi panguncin paksi).
Maka jelaslah disini dalam perguruan Ida Pedanda Made Sidemen pengendalian diri khususnya pengendalian kata-kata adalah merupakan hal yang sangat utama.
Demikian pula halnya dalam hal berupacara Ida Resi Agung Pinatih pantang untuk menyuruh orang untuk melakukan upacara. Beliau mengatakan:
“Bapa tak pernah menyuruh orang untuk berupacara, mecaru apalagi. Karena tak dapat diduga, apakah upacara tersebut dapat menimbulkan kerahayuan bagi orang yang disuruh, bila justru tertimpa musibah, maka Bapa yang salah. Terkecuali ia datang bertanya kesinim saat itu Bapa mengingatkan”.(Bapa tusing taen ngongkon anak maupacara, mecaru, apa luwire. Anak tusing kena baan, nyak nyen selamet anake ane tunden, dilepete Bapa ngelah alane. Nah sajabaning nyen ia metakon indik upakara mai, ditu Bapa mapeseken).
Di sini nampak betapa kehati-hatian Beliau sebagai seorang pandita, karena beliau diikat oleh sasana.
Ida Resi Agung Pinatih memang benar-benar ingin menegakkan sasana kawikon, senantiasa ingat ajaran yang diberikan oleh Nabe dan Guru Waktra beliau. Pantang bagi beliau melanggar atau menyimpang dari petunjuk guru beliau, karena berakibat penderitaan dalam hidup. Dalam usia yang semakin sepuh ternyata pancaran nilai-nilai kesucian semakin besar bagi seorang pendeta yang benar-benar melaksanakan wiku sasana.
Kini Ida Resi Agung Pinatih telah tiada, namun beliau meninggalkan warisan rohani yang tiada tara bagi kita semua. Beliau bagaikan bintang yang bercahaya dilangit dengan cemerlang, namun mungkin tidak banyak yang memandangnya. Bagi mereka yang pernah dengan sungguh-sungguh menatap bintang itu, ternyata mendapat percikan cahaya yang dapat melenyapkan kegelapan di dalam diri. Kesederhanaan, kesabaran, ketetapan hati, ketulusan, ketenangan adalah hal-hal yang beliau miliki, dan untuk itu bagi mereka yang juga ingin memilikinya perlu banyak belajar dari beliau.
Bahwa di Bali, di pulau kecil ini, di masa kita, ternyata ada sebuah “perguruan tinggi rohani”, darimana nilai-nilai rohani itu mengalir kedalam masyarakat.
Dikutip dari: tulisan Ida Bagus Gede Agastia, Yayasan Dharma Sastra Denpasar, 2004

Iklan