Jalan Kebebasan

Tutur Kamoksan merupakan petuah – petuah yang berhubungan dengan kematian, penyatuan diri manuasia kepada asalnya yaitu Tuhan. berikut akan dipaparkan sekilas tentang petuah tersebut. tulisan ini hanyalah gambaran luarnya saja, untuk lebih lengkap mempelajari tutur kamoksan ini di anjurkan untuk mencari pembimbing yang kompeten dan perlu pengorbanan yang cukup besar, yaitu waktu dan kebiasaan.

Tujuan utama orang hindu adalah menuju moksa (Nirwana),
tetapi pada jaman sekarang ini terasa sangat sulit untuk mencapai hal tersebut. Na.. tar ta share sedikit pengetahuan tentang tutur kamoksan, dimana tutur ini sudah saya ringkas yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Sebenarnya sih bukan saya yg ngumpulin dulunya tapi hanya sebatas melanjutkan saja.
Sebelum lebih jauh mari simak beberapa pengertian Moksa menurut para sesepuh and penulis buku barat..

Arti MOKSA;
“Moksa/mukti berarti kebebasan atau kemerdekaan” dalam Mahanirvana Tantra Moksa dikatakan “Bebas dari ikatan samsara dengan berakhir persatuan dengan jiwatman dengan paratman”, dalam lain buku disebutkan bahwa “Emansipasi libration realize from deat final or eternal emancipation” lain pula yang ditemukan dalam salah satu lontar bali “Niyan tutur pamoka margining mulih pitara ring sunya loka” Artinya ; inilah tutur pamoksa jalan atma menuju alam sunia. Oleh Sir. Monier Williams, kamus Sanskrit-inggris disebutkan bahma yang dimaksud dengan Moksa adalah Ingin untuk membebaskan diri sendiri, mencari kebebasan.

Mungkin dari beberapa ungkapan anda sudah bias mengerti maksud dari arti kata moksa itu sendiri. Dengan kata lain moksa itu kehidupan di alam yang berbeda yang lebih baik dari alam kita sekarang ataupun sorga, ini berarti moksa dapat dicapai setelah kematian kita…

Trus kematian yang bagaimana dapat dikategorikan jalan menuju moksa,??
yang jelas bukan karena kematian salahpati ataupun ngulah pati tetapi proses kematian yang diawali dengan meditasi ataupun yang dapat menjalankan langkah2 berikut ini;
“mempersatukan Sang Bapak dengan Sang Ibu, kemudian memasukan Sang Ibu ke dalam Sang Bapak. setelah persatuan sempurna, ia memasukan Sang Atma di tengah – tengah otak terlebih dahulu. Di tempat Sang Tunggal Sang Hyang Atma berusaha menunggal dengan Sang Hyang Tunggal. kemudian berusaha agar Sang Hyang Tunggal meninggalkan tubuh melalui wunwunan dan masuk ke dalam sunia agar tidak kembali menjelma. ia dapat menikmati kebahagiaan langgeng, sekalipun dalam hidupnya melakukan kejahatan – kejahatan, karena ia tahu : Manjing Sang Hyang Tunggal dalam tubuh”.

Nah.. sebelum kita menemui jalan moksa hendaknya kita harus menjalankan perbuata yang sejalan dengan ajaran Dharma dan mengamalkan JnanaBala.

Adapun kegiatan JnanaBala tersebut antara lain:
1. Pranayama.
2. Sthanakanda puja, tri purusa diatas wunwunan 12 jari.
3. Ucapkan Sad Aksara ditempatnya masing-masing dengan memancarkan sinar (bayangan) [Semua itu difokuskan di Telenging Lelata].
4. Diikuti dengan mantram Gayatri, dengan cara; mata tidak berkedip, bait-bait sloka diucapkan dengan tidak bernafas.
5. Yakini bahwa itu berkekuatan tidak ada tandingannya, baik dalam kesucian maupun dalam bidang megic.
6. Jauhkan diri dari; Moha, Mada dan Kasmala.
7. Kegunaannya untuk; kesucian, kedamaian dan penyembuhan.

Setelah mejalankan ajaran diatas sekarang saya share pertanda datangnya dewa Kematian;
▪ jika denyut darah Si Sakit lemah padahal penyakitnya tidak berat dan orang mendengar gersik dalam usus muda dan usus tua menjelang waktu tidur, terus menerus kembali terdengar.
▪ saluran – saluran mata lemak (megenyi) nampaknya si sakit merasa ada asap pada wunwunannya itu pertanda 1 bulan lagi akan mati.
▪ jika orang melihat bibirnya menyerengai, 10 hari lagi akan mati.
▪ bibir pucat dan terasa ada semut berjalan didalam badan, 7 hari lagi akan mati.
▪ jika pada ujung lidah ada perasaan manis yang beberapa kali hilang adanya rasa itu, disertai “ air putih” keluar dari kerongkongan, besok akan mati.
▪ setiap benda dilihat si sakit berupa kembar, 5 hari lagi akan mati.
▪ gersik mengalun atau mendesing dalam telinga sebagai lanjutan mendesah, 6 hari lagi akan mati.
▪ merasa seolah – olah tempurung kepala retak dan punggung terbelah, 4 hari lagi akan mati.
▪ jika ada bunyi anjing menggonggong dan meraung, 3 hari lagi akan mati.
▪ Jika seseorang berpusing – pusing berjalan dan warnanya nampak kuning, mata bagian yang putih nampak keruh, bulu matanya melengket, ia tinggal hidup 3 hari saja, 2 hari mengalami mencret dan muntah – muntah, tak dapat dan tak mau makan, pada hari ke-3 menderita ketegangan pada ulu hati, sekalipun ia dapat bercakap – cakap dan berjalan tetapi toh akan mati.
▪ jika bulu – bulu mata dan pelupuk – pelupuk mata tengah tertutup, bulu alisnya berdiri, rambutnya kelemak – lemakkan, orang demikian pasti mati.

Tanda – tanda kematian lainnya (Sang Hyang Widhi) di Sarira/Tubuh :
▪ Jika tubuh dicubit tidak merasa sakit, Dewa Daging sudah meninggalkan tubuh dan masuk kembali ke Pertiwi.
▪ Tidak mendengar apapun waktu meraba dan mengusap – usap tubuh si sakit, Dewa Pelindung Darah sudah kembali ke dalam air.
▪ Pada waktu mata si sakit yang tertutup ditekan, tidak ada terlihat kesan cahaya, maka Dewa Pelindung Mata sudah pergi dan kembali ke api.
▪ Lidah tidak terasa sakit waktu tergigit, Dewa Pelindung Lidah telah kembali ke udara.
▪ Jika bayangannya sendiri seluruh pelosuk tubuhnya nampak berubah dalam air, Dewa Pelindung tubuh telah kembali ke angkasa. Kalau bayangan tubuh dalam air dan tidak berubah, orang tak usah takut.

Si sakit sendiri tau datangnya kematiannya dengan cara :
▪ Berada di pekarangan waktu tengah malam, tutup kedua liang telinga. Jika terdengar suara berbunyi ; Teg, Tog, Ser, Sek, artinya: dewa pelindung rambut menangis.
▪ Jika bunyi gersesik terdengar sebagai suara maka dewa wunwunan menangis, 2 hari lagi akan mati.
▪ Jika suara genta didengar, dewa pelindung otak menangis, besok harinya akan menangis.
▪ Jika segala sesuatunya hening (sunyi/sepi) dan tidak mendengar suara apapun, sang hyang pramana (hidup orang) sudah bersembunyi, dan pada setiap waktu orang bisa mati.
▪ Jika orang ingin pada bulan mana akan mati, ia harus pada tengah hari berada pada pekarangan rumahnya dan memandang langit selama seperempat jam.

Jika orang melihat sesuatu benda hitam, yang besarnya sebagai roda kereta (dokar) yang seolah-olah bergantung pada awang-awang :
▪ Empat depa, empat bulan akan mati.
▪ Tiga depa, tiga bulan akan mati.
▪ Dua depa, dua bulan akan mati.
▪ Satu depa, satu bulan akan mati.
▪ Jarak kecil, lima hari tinggal hidup.
▪ Jika benda itu hampir menyentuh tubuh orang itu sewaktu-waktu akan mati.
▪ Jika tidak melihat apa-apa, tidak usah takut.

Tetenger (tanda-tanda) kematian berdasarkan pancawara. Dengan cara memandang matahari dengan mata kanan:
▪ Matahari tampak jauh di timur, umanis mati.
▪ Matahari tampak jauh di selatan, paing mati.
▪ Matahari tampak jauh di barat, pon mati.
▪ Matahari tampak jauh di utara, wage mati.
▪ Matahari tampak jauh di tengah, kliwon mati.
▪ Tidak melihat apa-apa, tak usah takut.
Nah sekian dulu kutipan dari ajaran Kemoksan, mudah2an dapat berguna bagi segenap umat sedharma.

Suksma,

OM Shanti, Shanti, Shanti OM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s