Kemiskinan yang mesti harus dientaskan

KEMISKINAN dan pengangguran merupakan persoalan yang kompleks. Lebih-lebih kesempatan kerja bagi angkatan kerja di pedesaan sangat terbatas. Ada tiga pendekatan yang dapat dikategorikan atas terjadinya kemiskinan yakni kemiskinan alamiah, struktural, dan kemiskinan budaya.
Ketiga kategori kemiskinan itu terjadi akibat belum tergalinya potensi yang ada demi terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, lemahnya pemahaman pemerintah (eksekutif-legislatif) dan fanatisme budaya masyarakat yang dipertahankan sedemikian rupa tanpa mempedulikan perkembangan zaman.
Di Kabupaten Klungkung, keterbatasan potensi SDA dengan cakupan wilayah sangat kecil hanya 315 km2 dan jumlah penduduk 175.000 jiwa, sangat rentan munculnya kemiskinan. Terlebih lagi secara geografis, Klungkung merupakan wilayah berbukit, terutama di Kecamatan Nusa Penida. Selain berbukit juga atmosfirnya panas dengan curah hujan rendah. Hingga tahun 2009, Kabupaten Klungkung mengantongi 7.988 rumah tangga miskin (RTM) atau 27.682 jiwa. Terbanyak di Kecamatan Nusa Penida 3.821 RTM (12.599 jiwa) dari jumlah penduduk 47.589 orang.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Keluarga Berencana dan Pemerintahan Desa (BPMPKBPD) Klungkung dr. Gusti Ngurah Agung Swastika dan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Ketut Genep menyebutkan, kemiskinan memang harus mendapat perhatian lebih serius lagi. Khususnya kemiskinan struktural. Penanggulangannya bisa dilakukan dengan memperkuat sistem struktural dengan pelatihan-pelatihan. Demikian pula perencanaannya harus betul-betul dari bawah.
Swastika menambahkan, kepala desa selama ini belum melihat betul permasalahan dan apa yang dibutuhkan di wilayahnya. Kepala desa cenderung melihat bantuan yang akan diterima dibanding keberanian mengakui daerahnya sudah terbebas dari RTM. Begitu juga dengan eksekutif-legislatif, masih belum fokus terhadap persoalan tersebut. Belum ada kesamaan visi-misi untuk penanggulangan kemiskinan.
Dia mencontohkan Desa Kamasan (Klungkung), Jungutbatu dan Lembongan (Nusa Penida). Ketiga desa ini berdasarkan data BPS rata-rata masih mengantongi 9 persen RTM dari total jumlah penduduk. Nyatanya, ketika dicek langsung ke lapangan, tak ditemui adanya RTM alias nol persen. Inilah yang perlu diubah. Kades jangan takut tidak dapat bantuan karena di desanya nol persen RTM. Memang untuk hal itu pemerintah perlu merangsang dengan pemberian penghargaan kepada kades yang berhasil menanggulangi kemiskinan di daerahnya. Ke depan, pengentasan kemiskinan terus digalakkan agar Klungkung benar-benar terbebas dari RTM.
Genep menyatakan, dari 14 variabel kemiskinan, enam di antaranya sedang difokuskan penanggulangannya. Di antaranya dengan terus menambah jumlah program bedah rumah, bantuan bibit ternak dan lainnya. Tahun ini program bedah rumah hanya dialokasikan dari pemerintah provinsi yakni sebanyak 50 unit rumah untuk warga miskin di Nusa Penida dan 30 ekor kambing. ”Namun, di APBD Perubahan sudah kami usulkan untuk enam unit bedah rumah masing-masing dananya Rp 26 juta,” tambahnya.
Hal sama dikatakan anggota DPRD Klungkung, Wayan Mastra. Ia mengakui, dengan potensi SDA dan SDM yang ada, Klungkung cenderung sulit mengentaskan kemiskinan dengan segera. Apalagi selama ini potensi yang tersedia tak tergarap optimal yang berdampak kecilnya pendapatan asli daerah (PAD).
Sejak tahun 2006 PAD Klungkung selalu mengalami peningkatan. Tahun 2006 PAD Rp 19 miliar menjadi Rp 29 miliar tahun 2009 dan tahun 2010 targetnya ditingkatkan menjadi Rp 30 miliar. ”Namun peningkatan masih sangat kecil,” ujarnya.
Selain karena minimnya terobosan yang dilakukan eksekutif, kecilnya peningkatan PAD juga karena banyak kebocoran. Jika ini bisa dibenahi, peningkatan PAD pasti lebih signifikan yang tentunya berdampak bertambahnya anggaran untuk kepentingan masyarakat.
Kepala Bappeda Klungkung A.A. Ngurah Agung menyebutkan, kemiskinan di Klungkung, khususnya Nusa Penida yang mengantongi RTM terbanyak, diakibatkan karena kondisi wilayah (alamiah). Beberapa persoalan utama dihadapi yakni infrastruktur seperti jalan, air, listrik. Sejauh ini upaya yang dilakukan dengan melihat potensi yang ada. Salah satunya potensi perairan yakni dengan memberi bantuan bibit (ikan dan rumput laut) untuk peningkatan hasil produksi. (bal)

Tentang agung swastika

Seorang dokter
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s